Penantian Realita

Layaknya seorang artis. Atau pramugari. Kau begitu ke semuanya. Hanya sebuah formalitas. Atau keharusan agar terlihat baik. Tanpa menebar rasa. Dan aku mengerti itu. Namun kau tahu apa yang beda? Bahwa kau bukan lah artis atau pragmugari. Jadi ku tak mengerti. Apakah lakumu hanya sebuah simbol kebaikan. Atau ada sesuatu di dalamnya.

Bodoh sekali aku berharap seperti ini. Toh kita belum lama kenal. Tapi apakah salah jika ku begini? Apakah salah jika aku memendam rasa? Apakah salah jika aku ingin lebih mengerti kamu agar selanjutnya ku bisa cinta? Ya. Hanya kau yang bisa menjawab itu. Namun apadaya. Aku merasa salah jika pharus menanyakan semua itu padamu.

Entah apa yang bisa membuatmu sadar. Tanpa harus ku menyatakannya. Rasanya bimbang untukku memilih. Tersiksa dalam harapan dan angan? Atau terpisah dalam realita? Walau mungkin ada sedikit kemungkinan kita takkan terpisah. Karena ku tak mau makin tersiksa dalam harapan ini.

Mungkin. Sekarang ku akan tahan akan siksa harapan. Namun jangan kaget. Jika nanti kau harus memutuskan dan memberikan jawaban. Jawaban untuk memperjelas akan cahaya yang kulihat di ruangan gelap mu. Apakah itu hanya sebuah fatamorgana. Atau itu benar benar sesuatu yang sangat indah.

-Res-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datang tuk Merubah

Realita Harapan

Malu Merindu