Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Angan dalam Realita

Berpijak pada kata. Terpikat sebuah tulisan. Sendiri merenungkan. Apa yang akan datang. Ku tulis rasa dalam layar. Berharap sampai padanya. Ku simpan dalam dada. Hingga penuh hingga sesak. Angan merajalela. Tak terkira. Memperhatikan. Mengaguminya. Dalam diam tanpa kata. Ku ingin menyampaikannya. Namun ku tak bisa. Terlalu takut dalam persimpangan. Antara cinta atau kawan. Terlarut dalam angan. Tanpa batas. Haruskah ku hidup dalam angan? Hingga ku abaikan realita. Jika memang begitu adanya. Lebih baik ku pergi dari dunia. Dan hidup dalam angan. Selamanya. Sering ku mendengar. Lagu-lagu tentang cinta. Yang sangat jarang ku lihat. Liriknya terjadi dalam kenyataan. Apakah itu hanyalah bualan? Apakah itu sebuah pengalaman? Atau itu hanya sebuah angan dari penciptanya? Angan dari realita yang tak kunjung datang. Hingga ia ciptakan sebuah lagu untuk angan. Agar menjadi kenyataan. Walau hanya dalam nada. -Res-

Kronologi Tempat Itu

Pada suatu masa, ku dibawa oleh seorang kawan. Menuju tempat di tengah keramaian. Pada awalnya, ku malu untuk menyapa. Namun dengan mengalirnya waktu, ku tak segan bertukar canda. Disana kunikmati nikmat rasamu, yang menghangatkan dinginnya malam. Wangi aroma mu sungguh dapat menggantikan pekatnya polusi malam. Senandung lagumu membuat bisingnya jalan seakan tiada. Namu setelah itu kau menghilang seperti ditelan gelapnya malam. Satu dua hari, satu dua minggu. Akhirnya ku dengar kabarmu dari sebuah layar. Kuhampiri kembali tempatmu, yang walau menjauh namun tetap dapat kuraih. Masih dapat kurasakan kenikmatan mu. Masih semerbak wangi aroma mu. Masih dapat ku bercanda tawa. Dan senandung lagu mu pun masih menenangkan. Namun tetap ada yang berubah. Kau ubah jatidiri mu menjadi lebih baik. Kau ubah perawakan mu menjadi lebih indah. Dan kau ubah suasana mu menjadi lebih tenang. Itulah kawan sebuah kronologi ku dengan tempat ini, yang sampai kapan pun takkan terlupa. -Res-

Datang tuk Merubah

Seperti lebah dan bunga. Hama dan padi. Ikan kecil dan paus. Semua manusia memiliki tujuan. Yang akan membentuk sebuah simbiosis dengan manusia yang lain. Mutual. Parasit. Komensalis. Ia datang. Ia pergi. Membuat perubahan kepada yang lain. Menjadi lebih baik. Atau buruk. Kemarin. Seorang wanita datang. Kepada sang penyendiri. Memberikan secarik kertas. Yang ia lihat sebagai sebuah pentujuk. Alamat menuju ruang wanita tersebut. Hingga ia terjebak di sana. Namun dengan siksaan itu. Juga muncul sebuah perubahan. Terlihat dan tidak. Luar dan dalam. Kembali seperti semula dan permanen. Mungkin. Bukan maksud wanita itu memberikan sebuah alamat menuju harapan. Namun lelaki itu lah yang terlalu bodoh dan naif. Menganggap jika ia menarik. Mungkin jika lelaki itu tak merasa spesial. Harapan yang kini menjasi siksaan tak akan terjadi. Ragu. Apakah lekaki yang memang terlampau naif. Atau ia kurang memahami apa yang diinginkan oleh wanita itu. Walau kini. Jarak diantara mereka sedikit lebih jau...

Malu Merindu

Jangan malu tuk merindu. Karena kau akan tersiksa karenanya. Bahkan lebih dari malu tuk mengaku. Bukannya tidak boleh. Namun pada dasarnya setiap manusia pasti akan merindu. Merindukan seseorang yang spesial. Merindukan kenangan bersama. Merindukan hal hal atau benda benda yang memiliki makna dan kenangan. Bukan hanya dari seorang wanita pujaan. Bisa dari mana saja. Baik teman atau pun keluarga. Bahkan hewan sekalipun. Hai kawan yang sedang merindu. Jangan malu tuk meluapkannya. Karena jika tidak. Kau akan terus begitu. Dan takkan pernah lupa dari itu. Untukku. Menulis sebuah karangan dan memotret adalah cara untuk meluapkan kerinduan. Dan perasaan lainnya. Mungkin kau bisa melakukan hal yang lain. Bernyanyi, menggambar, membaca, membuat lagu atau apapun yang kau suka. Tidak perlu khawatir jika hasilnya tidak seindah yang kau ekspektasikan. Karena paling tidak. Itu murni sebuah luapan emosi. Tidak hanya sekedar karya. Namun memiliki jiwa. Jika kau tak ingin orang lain tau akan perasa...

Pengembara Kesepian

Layaknya padang pasir. Disini sangatlah sepi. Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan perbekalan yang seadanya. Mungkin kekurangan. Berharap ada tempat untuk singgah meski untuk sementara. Beratnya tas ransel yang ia bawa. Membuatnya sulit untuk melangkah. Ingin di tinggalkan. Namun tas ini sudah seperti melekat pada kulit. Dilihatnya ke berbagai penjuru. Hanya ada kehampaan di tiap sudutnya. Ia paksakan tubuh untuk melangkah. Meski tak tau kapan akan temukan. Sebuah tempat peristirahatan. Hari hingga tahun terlewati. Tak juga temukan tempat. Hingga ia melihat sebuah bangunan yang berbentuk seperti sebuah rumah. Senang dirasa. Ragu enggan mengalah. "Ah yang penting bisa istirahat" pikirnya singkat. Ia dekati rumah itu. Berjalan terus mendekati rumah itu. Hingga tak terasa ia sudah berada di depan rumah itu. Rumah yang sederhana. Tanpa pernak pernik yang berlebih namun tetap indah dipandang. Hingga saat akan membuka pintu rumah itu. Terdengar suara orang lain dari dala...

Realita Harapan

Berisik dalam layar. Bungkam dalam tatap. Hal yang selalu terulang. Jika menyangkut orang yang disuka. Mungkin terdengar pengecut. Namun itulah adanya. Tak bisa ku beralasan untuk menghindar. Untuk apa pikirku. Berisik. Rusuh. Semua kulakukan. Untuk menyembunyikan diri yang sebenarnya. Dengan harapan bisa melihatnya tertawa. Atau tersenyum pun cukup. Cukup untuk membuatku bahagia. Tersenyum sendiri. Saat ku bergumul dengannya dalam layar. Panas di pipi. Saat ku berpapasan dengannya dalam tatap. Walau mungkin tatapnya bukan untukku. Namun tetap terasa. Detak di dada. Panas di muka. Jika boleh ku berharap. Harapan ku hanya satu. Aku berharap kau bisa melihat. Melihat sekitarmu. Mengerti akan sekitar. Karena sifat tidak hanya satu. Sifat tidak hanya yang terlihat. Dan kau bisa mulai melihatku. Dan mengerti aku. Namun apadaya. Itu hanyalah sebuah angan. Angan yang sangat kecil kemungkinan untuk terjadi. Namun tetap kupertahankan. -Res-

Kepalsuan

Topeng. Semua orang menggunakannya. Wajah yang berbeda dalam kondisi yang berbeda. Meskipun masih pada latar yang sama. Aku pun begitu. Namun terkadang. Jika kita memaksakan diri untuk menggunakan wajah yang berbeda dengan kondisi. Itu bisa menyiksa. Berawal dari mental. Berujung di air mata yang tak terduga. Untukku. Sangat mudah untuk mengganti wajah. Beda lawan main. Beda wajah. Itu perlu. Walau besar kemungkinan. Teman adalah hal yang fana pada akhirnya. Kecuali tiga. Mereka yang tak perduli akan reaksi. Walau kadang ku benci. Namun tak kutampakkan. Karena ku takut mereka pergi. Walau itu kecil kemungkinan. Beranjak dewasa. Kumulai terbiasa akan kepalsuan. Semua adalah palsu. Meski dari orang terdekat. Walau hanya sebuah anggapan. Namun kuanggap benar. Karena ku takut untuk berharap. Bagiku. Harapan adalah pintu kekecewaan. Memang ku tak bisa sendiri. Tapi yang perlu kalian tau. Setiap waktuku. Kurasa selalu sendiri. Karena tadi. Semua itu fana. Merasa dekat. Hal yang selalu kut...

Penantian Realita

Layaknya seorang artis. Atau pramugari. Kau begitu ke semuanya. Hanya sebuah formalitas. Atau keharusan agar terlihat baik. Tanpa menebar rasa. Dan aku mengerti itu. Namun kau tahu apa yang beda? Bahwa kau bukan lah artis atau pragmugari. Jadi ku tak mengerti. Apakah lakumu hanya sebuah simbol kebaikan. Atau ada sesuatu di dalamnya. Bodoh sekali aku berharap seperti ini. Toh kita belum lama kenal. Tapi apakah salah jika ku begini? Apakah salah jika aku memendam rasa? Apakah salah jika aku ingin lebih mengerti kamu agar selanjutnya ku bisa cinta? Ya. Hanya kau yang bisa menjawab itu. Namun apadaya. Aku merasa salah jika pharus menanyakan semua itu padamu. Entah apa yang bisa membuatmu sadar. Tanpa harus ku menyatakannya. Rasanya bimbang untukku memilih. Tersiksa dalam harapan dan angan? Atau terpisah dalam realita? Walau mungkin ada sedikit kemungkinan kita takkan terpisah. Karena ku tak mau makin tersiksa dalam harapan ini. Mungkin. Sekarang ku akan tahan akan siksa harapan. Namun j...

Ruang Gelap Seorang Wanita

Rasanya bingung. Saat aku menjadi seorang yang gampang jatuh hati. Hanya dengan kedipan mata pun diri ini dapat luluh. Bagi sebagian orang. Mungkin mereka menganggapku sebagai pembohong. Karena saat hari ini kubilang ku suka dia. Esoknya ku bilang ku suka yang lain. Atau seorang labil. Atau bocah baperan. Mungkin memang aku ini labil dan baperan. Tapi aku bukan pembohong. Tidak pernah sekalipun aku berbohong tentang perasaan yang seperti ini. Dan kau tahu apa yang paling menyiksa dari menjadi orang seperti ku? Itu adalah saat dimana aku jatuh hati pada satu orang dan bertahan lama. Seperti terjebak dalam suatu ruangan gelap yang aku tak tahu apa isinya. Apakah barang barang  menyenangkan. Atau barang barang menyedihkan. Kali ini ku rasakan. Terjebak di ruangan gelap itu. Ruangan gelap yang bernama seorang wanita. Detik demi detik hingga minggu demi minggu berlalu. Namun ruangan ini tetap gelap. Hingga aku melihat sebuah benda tergantung di temboknya. Seperti sebuah foto. Atau luk...

Laman Lamunan

Putih. Bersih. Mereka bilang itu hal yang baik. Namun tidak untukku. Tidak sepenuhnya. Karena bagiku itu merupakan tanda kekosongan. Belum terisi. Belum terukir. Belum terwarnai. Belum indah. Bagai sebuah buku kosong. Yang menunggu untuk diisi. Dengan tulisan. Dengan gambar. Atau apapun untuk mengisi tiap lamannya. Hitam. Kelam. Mereka bilang itu hal yang buruk. Namun tidak untukku. Tidak sepenuhnya. Karena bagiku itu merupakan tanda kehampaan. Sunyi. Sepi. Sedih. Bagai sebuah ruang. Yang mungkin nyaman ditempati. Meski hanya untuk melamun. Disini ku terdiam. Di ruang gelap itu. Sendiri. Tanpa suara. Mungkin terdengar sayup lantunan merdu dari luar. Melamun. Tanpa arti. Berfantasi. Tanpa henti. Satu perbedaan. Lamunanku kusalurkan. Tersalur pada laman putih. Yang akan terisi oleh huruf-huruf hitam. Dan menjadi laman lamunan ku. September, 2017 -Res-